Omahaindonesia's Blog

11 Februari 2013

MACAM-MACAM JENIS RUMPUT LAUT MANFAAT DAN KEGUNAAN NYA.

I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
. Rumput laut dikenal dengan nama
seaweed merupakan bagian dari
tanaman laut. Rumput laut
dimanfaatkan sebagai bahan mentah,
seperti agar agar, karaginan dan algin.
Pada produk makanan, karaginan
berfungsi sebagai stabilator (pengatur
keseimbangan), thickener (bahan
pengental), pembentuk gel,
pengemulsi,dll (Yasita dan Intan, 2008).
Rumput laut merupakan salah satu
sumber devisa negara dan sumber
pendapatan bagi masyarakat pesisir.
Selain dapat digunakan langsung
sebagai bahan makanan, beberapa
hasil olahan rumput laut seperti agar-
agar, carrageenan dan alginat
merupakan senyawa yang cukup
penting dalam industri. Indonesia di
samping mengekspor rumput laut juga
mengimpor hasil-hasil olahannya yang
dari tahun ke tahun semakin meningkat
jumlahnya. Sampai saat ini industri
pengolahan di Indonesia yaitu agar-
agar masih secara tradisional dan semi
industri, sedangkan untuk carrageenan
dan alganit belum diolah di dalam
negeri.Guna meningkatkan nilai
tambah dari rumput laut dan
mengurangi impor akan hasil-hasil
olahannya, pengolahan di dalam negeri
perlu dikembangkan. Disini diuraikan
beberapa proses pengolahan rumput
laut serta manfaat dari hasil-hasil
olahannya (Istini et al,1985).
1.2 RUMUSAN MASALAH
- Apa saja manfaat dari
rumput laut?
- Bagaimana cara
mengolah agar agar?
- Bagaimana cara
mengesktrak agar agar
kertas?
- Bagaimana cara
mengolah karaginan?
- Bagaimana cara
mengolah alginat?
II. ISI
2.1 MANFAAT DARI RUMPUT
LAUT
2.1.1 Jenis-jenis rumput laut
komersil
Rumput laut dibagi dalam empat kelas
yaitu : Chlorophyceae (ganggang hijau),
Rhodophyceae (ganggang merah),
Cyanophyceae (ganggang biru),
Phaeophyceae (ganggang coklat).
Dari keempat kelas tersebut hanya dua
kelas yang banyak digunakan sebagai
bahan mentah industri, yaitu :
Rhodophyceae (ganggang biasa)
yang antara lain terdiri dari :
Gracilaria, Gelidium sebagai
penghasil agar-agar
Chondrus, Eucheuma,
Gigartina sebagai penghasil
karaginan.
Fulcellaria sebagai penghasil
fulceran.
Phaeophyceae (ganggang coklat)
yang antara lain terdiri dari :
Ascephyllum, Laminaria,
Macrocystis sebagai penghasil
alginat.
2.1.2. Kegunaan rumput laut
dan hasil olahannya
Rumput laut telah lama digunakan
sebagai makanan maupun obat-obatan
di negeri Jepang, Cina, Eropa maupun
Amerika. Diantaranya sebagai nori,
kombu, puding atau dalam bentuk
hidangan lainnya seperti sop, saus dan
dalam bentuk mentah sebagai sayuran.
Adapun pemanfaatan rumput laut
sebagai makanan karena mempunyai
gizi yang cukup tinggi yang sebagian
besar terletak pada karbohidrat di
samping lemak dan protein yang
terdapat di dalamnya. Hasil analisa dari
sebagian jenis rumput laut yang
berasal dari daerah Sulawesi Selatan
dan Bali dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil analisa rumput laut
Jenis analisa E.
spinosum
(Bali)%
E.
spinosum
(Sul Sel)%
E.
spinosum
(Bali)%
G.
gigas
(Bali)%
Kadar air 12,90 11,80 13,90 12,90
Protein
(Crude
protein) 5,12 9,20 2,69 7,30
Lemak 0,13 0,16 0,37 0,09
Karbohidrat 13,38 10,64 5,70 4,94
Serat kasar 1,39 1,73 0,95 2,50
Abu 14,21 4,79 17,09 12,54
Mineral:Ca 52,85 ppm 69,25 ppm 22,39 ppm 29,925
ppm
Fe 0,108 ppm 0,326 ppm 0,121 ppm 0,701
ppm
Cu 0,768 ppm 1,869 ppm 2,736 ppm 3,581
ppm
Pb = 0,015 ppm 0,040 ppm 0,190
ppm
Vitamin B1
(Thiamin) 0,21
mg/100g 0,10
mg/100g 0,14
mg/100g 0,019
mg/100g
Vitamin B2
(Riboflacin) 2,26
mg/100g 8,45
mg/100g 2,7
mg/100g 4,00
mg/100g
Vitamin C 43 mg/100g 41 mg/100g 12 mg/100g 12
mg/100g
Carrageenan 65,75% 67,51% 61,52% =
Agar = = = 47,34%
Sumber : hasil analisa di FTDC
Di samping digunakan sebagai
makanan, rumput laut juga dapat
digunakan sebagai penghasil alginat,
agar-agar, carrageenan, fulceran,
pupuk, makanan ternak dan Yodium.
Beberapa hasil olahan rumput laut
yang bernilai ekonomis yaitu :
1. Alginat, digunakan pada industri :
farmasi sebagai emulsifier,
stabilizer, suspended agent
dalam pembuatan tablet,
kapsul;
kosmetik : sebagai pengemulsi
dalam pembuatan cream,
lotion dan saus.
makanan : sebagai stabilizer,
additive atau
bahan tambahan dalam
industri tekstil, kertas,
keramik, fotografi dan lain-
lain ;
2. Agar-agar, banyak digunakan pada
industri/bidang :
makanan : sebagai stabilizer,
emulsifier, thickener
mikrobiological : sebagai
cultur media
kosmetik : sebagai pengemulsi
dalam pembuatan lotion,
cream dan salep.
lainnya digunakan sebagai
additive dalam industri kertas,
tekstil.
Karaginan, biasanya diproduksi dalam
bentuk garam Na, K, Ca yang dibedakan
dua macam yaitu Kappa karaginan dan
lota karaginan berasal dari
Eucheuma cottonii dan
Eucheuma striatum. Iota
kagarinan berasal dari Eucheuma
spinosum. Kedua jenis karaginan
tersebut dapat berfungsi sebagai
stabilizer, thickener, emulsifer, gelling
agent, pengental.
Pemakaian karaginan diperkirakan
80% digunakan di bidang industri
makanan, farmasi dan kosmetik. Pada
industri makanan sebagai stabilizer,
thickener, gelling agent, additive atau
komponen tambahan dalam
pembuatan coklat, milk, pudding,
instant milk, makanan kaleng dan
bakery.
Untuk industri non food antara lain
pada industri :
farmasi : sebagai suspensi,
emulsi, stabilizer dalam
pembuatan pasta gigi, obat-
obatan, mineral oil.
Industri-industri lain : misalnya
pada industri keramik, cat dan
lain-lain.(Istini et al, 1985)
2.2 . PENGOLAHAN AGAR.
Agar-agar merupakan senyawa ester
asam sulfat dari senyawa galaktan,
tidak larut dalam air dingin, tetapi larut
dalam air panas dengan membentuk
gel. Rumus bangun agar-agar :
Rumus molekul : (C12H14O5(OH)4)n
Beberapa sifat dari agar-agar :
Pada suhu 25C dengan kemurnian
tinggi tidak larut dalam air dingin
tetapi larut dalam air panas.
Pada suhu 3239C berbentuk padat
dan mencair pada suhu 6097C
pada konsetrasi 1,5%.
Dalam keadaan kering agar-agar
sangat stabil, pada suhu tinggi
dan pH rendah agar-agar
mengalami degradasi.
Viskositas agar-agar pada suhu
45C, pH # 4,59 dengan konsentrasi
larutan 1% adalah 210 cp.
Sebelum dilakukan proses pengolahan,
untuk mendapatkan bahan baku yang
bersih perlu dilakukan hal-hal sebagai
berikut : Rumput laut hasil pemetikan
dari alam dibersihkan dari kotoran-
kotoran yang menempel seperti pasir,
karang, garam dan kotoran lainnya.
Setelah bersih dicuci dengan iar tawar
sampai berwarna putih kemudian
dikeringkan. Pencucian dan
pengeringan dilakukan beberapa kali
sampai diperoleh rumput laut kering
yang bersih dan putih. Pengeringan
dilakukan dengan penjemuran sinar
matahari. Hasil pengeringan rumput
laut mempunyai kandungan air
berkisar 1525%.
2.2.1. Pengolahan secara
tradisionil di Pameungpeuk
Garut
Pada pengolahan secara tradisionil/
sederhana diperlukan peralatan yang
cukup sederharna yaitu :
drum besar (tangki pemasak)
dengan volume 200 l;
tungku pemasak (kompor
minyak);
loyang ( tempat penampung dan
cetakan ) dengan ukuran 302010
cm;
rak penyimpanan loyang;
alat tempat pengepres;
lembaran kain berukuran 302010
cm;
tempat penjemuran /
pengeringan.
Rumput laut yang akan diolah adalah
jenis Gracilaria sp (agar merah)
dan Hypnea sp (bulu kambing).
Rumput laut yang sudah kering dan
bersih (3Kg), sebelum dimasak dalam
drum yang berisi air 150 1 ditambahkan
asam sulfat encer 2 sendok dan asam
cuka 2 sendok, diaduk sampai merata,
selanjutnya dimasak. Dalam satu hari
dapat dilakukan dua kali pemasakan
(24 jam). Pemasakan dilakukan sampai
mendidih dan rumput laut hancur serta
larut menjadi suatu masa yang
berbentuk bubur encer, kemudian
dilakukan pemisahan antara larutan
dan residu. Hasil pemisahan (larutan)
dituangkan pada loyang kemudian
didinginkan selama satu malam sampai
membeku.
Agar yang sudah membeku dipotong
dengan ketebalan 1 cm dan diletakkan
diantara kain yang berukuran sama
dengan cetakan/loyang, kemudian
disusun dalam alat pengepres sampai
ketinggian kira-kira 0,5 m dan dipres
dengan cara memberi beban (batu) di
atas tumpukan agar-agar. Hasil
pengepresan berupa lembaran agar-
agar tipis, kemudian dianginkan dan
dijemur 1 sampai 2 hari hingga kering.
Dalam 3 kg rumput laut kering dapat
menghasilkan 780 gram agar-agar
atau 78 lembar agar-agar dengan
berat pelembar 10 gram.
Untuk menghasilkan agar-agar dalam
bentuk batangan pada prinsipnya
hampir sama dengan pengolahan agar-
agar dalam bentuk lembaran, tapi tidak
dilakukan pengepresan, hanya
penyaringan biasa dan dicetak dengan
ukuran 1043 cm. Hasil cetakan
didinginkan dan dibekukan semalam,
kemudian dikeringkan dengan
penjemuran di bawah sinar matahari.
2.2.2 Pengolahan secara semi
tradisionil
Pada pengolahan secara semi
tradisionil, rumput laut diolah menjadi
agar-agar berbentuk bubuk ataupun
bentuk lain yaitu agar batangan dan
agar lembaran.
Adapun peralatan yang diperlukan
yaitu :
alat pencuci;
tangki pemasak;
filter press (alat penyaring dan
pengepres);
ruang pendingin (freezing room)
alat pengepres (kain);
alat cetakan;
alat penghancur/mesin pembuat
bubuk;
bak perendam
Bahan yang digunakan antara lain :
rumput laut Gracilaria sp.
Hypnea sp.
asam sulfat encer 10%
asam cuka 0,5%
kaporit.
Proses pengolahan :
Rumput laut yang telah melewati
proses pembersihan awal dicuci
lagi supaya lebih bersih.
Pencucian dilakukan dalam drum-
drum berisi air yang mengalir
secara over flow atau pencucian
dengan mengalirkan air tawar ke
dalam drum berlubang arah
horizontal yang berisi rumput
laut. Drum berputar mengikuti
porosnya.
Setelah dicuci bersih direndam
dalam kaporit 0,25% selama 46
jam sambil diaduk, sehingga
diperoleh rumput laut berwarna
putih dan bersih. Setelah
direndam dicuci kembali untuk
menghilangkan bau kaporit,
kamudian direndam dalam asam
sulfat encer 10% sampai lunak.
Rumput laut hasil rendaman
dengan asam sulfat dimasak
dengan menambahkan air dalam
suatu tangki pemasak.
Pemanasan dilakukan sampai
suhu operasi 90100C, pH = 56
(dalam suasana asam), dimana pH
diatur dengan jalan
menambahkan asam cuka 0,5%.
Di samping untuk
mempertahankan pH, asam cuka
juga berfungsi sebagai stabilizer
sehingga diperoleh tekstur
molekul yang konsisten.
Pemasakan dilakukan selama 48
jam sambil diaduk sampai
merata.
Setelah rumput laut hancur
semua, dilakukan pemisahan
melalui penyaringan dengan filter
press. Filtrat ditampung,
kemudian didinginkan selama
lebih kurang 7 jam (sampai
membeku).
Hasil pembekuan dihancurkan dan
dipress dengan menggunakan
kain. Hasil pengepresan adalah
agar-agar dalam bentuk
lembaran dengan ukuran sekitar
40 30 cm.
Lembaran agar-agar diangin-
anginkan kemudian dijemur di
bawah sinar matahari sampai
kering. Lembaran agar-agar yang
sudah kering dihancurkan dangan
mesin penghancur sehingga
berbentuk agar-agar dengan
ukuran 55 mm. Agar-agar hancur
dimasukkan ke mesin pembuat
bubuk (mill) sehingga diperoleh
agar-agar powder yang berwarna
putih. Dapat ditambahkan vanili
untuk menambah aroma. (Istini et
al, 1985).
Menurut Darmawan et al, (2006) bagan
proses pembuatan agar agar dari
rumput laut merah :
Adapun pengolahan agar menurut
Sinuhaji (2006) dalam Utomo et al 1961
dalam Susanti (2003) sebagai berikut :
2.3 EKSTRAKSI AGAR AGAR
KERTAS
Menurut Eukaresin (2004) dalam
Sutomo et al (1991) , Proses
mengesktraksi agar agar kertas
sebagai berikut :
2.4 PENGOLAHAN KARAGINAN
Karaginan merupakan polisakarida
yang linier atau lurus, dan merupakan
molekul galaktan dengan unit-unit
utamanya adalah galaktosa. Karaginan
merupakan getah rumput laut yang
diekstraksi dengan air atau larutan.
alkali dari spesies tertentu dari kelas
Rhodophyceae (alga merah). Karaginan
merupakan senyawa hidrokoloid yang
terdiri dari ester kalium, natrium,
magnesium dan kalsium sulfat.
Karaginan merupakan molekul besar
yang terdiri dari lebih 1.000 residu
galaktosa. Oleh karena itu variasinya
banyak sekali.Karaginan dibagi atas
tiga kelompok utama yaitu : kappa,
iota, dan lambda karaginan yang
memiliki struktur yang jelas. Karaginan
dapat diperoleh dari alga merah, salah
satu jenisnya adalah dari kelompok
Euchema sp.(Yasita dan Intan,2008).
Karaginan sampai saat ini belum diolah
di Indonesia walaupun bahan baku yang
dapat digunakan untuk membuat
karaginan banyak terdapat di Indonesia
antara lain Eucheuma spinosum.
Karaginan adalah suatu campuran yang
kompleks dari beberapa polisacharida.
Lambda dan Kappa karaginan secara
bersama-sama dapat diekstrak dari
rumput laut jenis Chondrus
crispus dan beberapa species dari
Gigartina, sedangkan lota karaginan
diekstrak dari Eucheuma
spinsosum.(Istini et al,1985).
Rumus bangun dari karaginan :
Beberapa sifat dari karaginan antara
lain :
Dalam air dingin seluruh garam
dari Lambda karaginan larut
sedangkan Kappa dan lota
karaginan hanya garam
Natriumnya saja yang larut.
Lambda karaginan larut dalam air
panas, Kappa dan lota karaginan
larut pada temperatur 70C ke
atas.
Kappa, Lambda dan lota
karaginan larut dalam susu
panas, dalam susu dingin Kappa
dan lota tidak larut, sedangkan
Lambda karaginan membentuk
dispersi.
Kappa karaginan membentuk gel
dengan ion Kalium, lota karaginan
dengan ion Calsium dan Lambda
karaginan tidak membentuk gel.
Semua type karaginan stabil pada
pH netral dan alkali, pada pH
asam akan terhidrolisa.
Pengolahan pasca panen :
Pengolahan pasca panen atau
pengolahan awal dilakukan untuk
pembersihan/ menghilangkan pasir,
garam dan kotoran – kotoran lain yang
melekat dengan cara mencuci dengan
air tawar (pencucian dilakukan dua
sampai tiga kali). Hasil pencucian
dikeringkan hingga diperoleh rumput
laut yang bersih dengan kandungan air
10 25 %. Pengeringan dapat dilakukan
dengan sinar matahari atau
menggunakan alat pengering. Hasil
pengeringan dapat langsung diproses
atau dapat juga digunakan untuk
kebutuhan ekspor rumput laut kering.
Alat-alat yang diperlukan :
peralatan ekstraksi
peralatan pencucian
peralatan pemekatan
(evaporator)
peralatan pemisah (filtrasi
centrifuge)
tangki pengendapan (precipitator)
alat pengering (roll drum dryer)
Grinder (mill)
peralatan pengepakan.
Bahan-bahan yang diperlukan :
rumput laut jenis Eucheuma
sp.
air
NaOH / Ca (OH)2
Isopropil alkohol
Carbon aktif.
Proses pengolahan karaginan :
Bahan baku pembuatan karaginan
adalah rumput laut Eucheuma
sp. yang telah mengalami
pengolahan awal (pencucian dan
pengeringan). Rumput laut dalam
bentuk kering merupakan stock
untuk kebutuhan ekspor atau
keperluan pengolahan dengan
kadar air berkisar antara 15 25%.
Rumput laut yang sudah bersih
dan kering sebelum diolah perlu
dilakukan pencucian lagi.
Pencucian dengan air tawar dapat
dilakukan dengan drum berputar
yang berlubang dan kedalamnya
disemprotkan air sehingga
kotoran-kotoran akan lepas.
Rumput laut yang telah
mengalami pencucian tadi dibuat
alkalis dengan menambahkan
suatu basa berupa larutan NaOH,
Ca(OH) 2 atau KOH, sehingga pH
mencapai sekitar 9 9,6.
Setelah dibuat alkalis dilakukan
ekstraksi dengan air dalam suatu
tangki dengan perbandingan di
mana jumlah air 20 kali berat
rumput laut yang akan
diekstraksi. Ekstraksi dilakukan
selama 2 24 jam pada suhu 90
95C. Supaya sempurna ekstraksi
dilakukan selama satu hari (24
jam).
Dari hasil ekstraksi dipisahkan
antara larutan (ekstrak) dan
residu (kotoran-kotoran yang
terdiri dari rumput laut yang tidak
larut).
Pemisahan dilakukan dengan
penyaringan yang
menggunakan filter aid. Filtrat
yang keluar berupa larutan
yang mengandung 1%
karaginan, dan residunya di
buang.
Larutan yang mengandung 1%
karaginan dipekatkan menjadi 3%
dengan jalan menguapkan airnya
dalam suatu Evaporator pada
suhu 100C dan tekanan 1
atmospher.
Larutan hasil pemekatan
ditambah dengan larutan
centrifuge, larutan direcovery dan
kedalamnya ditambahkan carbon
aktif untuk menghilangkan warna
dai larutan. Larutan dan carbon
aktif dipisahkan dengan filtrasi.
Larutan hasil filtrasi digunakan
kembali untuk proses
pembentukan endapan karaginan.
Serat karaginan yang terbentuk
sebagai endapan kemudian
dikeringkan dalam suatu drum
dryer pada suhu 250C.
Serat karaginan yang sudah kering
dihancurkan dengan alat penghancur
(mill) sehingga diperoleh karaginan
powder.
Karaginan powder ini siap untuk
dikemas dalam drum plastik atau
dalam kantong-kantong polyethylene.
(Istini et al, 1985).
Pembuatan karaginan ini menggunakan
metode ekstraksi dimana pengertian
ekstraksi adalah metode pemisahan
suatu komponen solute (cair) dari
campurannya menggunakan sejumlah
massa solven sebagai tenaga pemisah.
Proses ekstraksi terdiri dari tiga
langkah besar, yaitu proses
pencampuran, proses pembentukan
fasa setimbang, dan proses pemisahan
fasa setimbang. Solven merupakan
faktor terpenting dalam proses
ekstraksi, sehingga pemilihan solven
merupakan faktor penting. Solven ini
harus saling melarutkan terhadap
salah satu komponen murninya,
sehingga diperoleh dua fasa rafinat.
Proses ekstraksi dapat berjalan dengan
baik bila pelarut ideal harus memenuhi
syarat-syarat yaitu selektivitasnya
tinggi, memiliki perbedaan titik didih
dengan solute cukup besar, bersifat
inert, perbedaan density cukup besar,
tidak beracun, tidak bereaksi secara
kimia dengan solute maupun diluen,
viskositasnya kecil, tidak bersifat
korosif, tidak mudah terbakar, murah
dan mudah didapat. Beberapa faktor
yang berpengaruh dalam proses
ekstraksi adalah temperatur, waktu
kontak, perbandingan solute, faktor
ukuran partikel, pengadukan dan waktu
dekantas.
Prosedur Pembuatan
Karaginan
Rumput laut (Euchema cottoni)
direndam dalam air tawar selama 12 -
24 jam, kemudian dibilas dan
ditiriskan .Rumput laut (Euchema
cottoni) direndam kembali dalam air
kapur selama 2 3 jam. Rumput laut
(Euchema cottoni) dicuci kembali dan
dibilas menggunakan air sampai bersih.
Euchema cottoni dikeringkan dalam
oven suhu 80oC selama 4 jam.
Euchema cottoni diblender menjadi
butiran kecil dan dilakukan
pengayakan. Euchema cottoni yang
diekstraksi lolos saringan 90 mesh.
Timbang Euchema cottoni 200 gr,
masukkan dalam ekstraktor,
Mengekstraksi pada suhu 90 95 oC
menggunakan larutan NaOH dengan
konsentrasi tertentu selama 2 jam.
dengan perbandingan pelarut dan
bahan baku 20 ml : 1 gr. Hasilnya
disaring dan filtratnya ditambahkan
HCl hingga pH-nya netral (pH 7). Proses
pemutihan (bleaching) bila diperlukan.
Filtrat yang pH-nya sudah netral
ditambahkan pengendap dengan
perbandingan tertentu dan diaduk-
aduk kemudian dibiarkan selama 15
menit. Endapan disaring kemudian
dikeringkan, lalu hasilnya ditimbang.
(Yasita dan Intan,2008).
Gambar 1. Rangkaian Alat Pembuatan
Karaginan
Menurut Iptek.net (2011), Cara
Pembuatan Karagina sebagai berikut :
Pengolahan rumput taut menjadi
karaginan dilakukan dengan ekstraksi
panas dalam suasana basa. Tahap-
tahap proses pengolahan karaginan
secara umum terdiri dari pencucian,
perebusan/ekstradisi, penyaringan,
pengendapan filtrat dengan al kohol,
pengeringan dan penepungan.
Pencucian
Rumput laut yang akan diekstraksi
dicuci dan dibersihkan dengan air untuk
menghilangkan pasir, garam, kapur,
karang, potongan tali dan rumput laut
jenis lainnya yang tidak diinginkan.
Ekstraksi :
Rumput laut yang telah bersih
kemudian direbus/diekstraksi dalam
air dengan volume 40 – 50 kali berat
rumput laut kering, pH air ekstraksi
diatur dengan menggunakan larutan
NaOH sehingga diperoleh pH 8 – 9.
Perebusan pertama dilakukan selama
30 – 60 menit pada suhu 90 – 95C.
Rumput laut kemudian dihancurkan
sehingga berbentuk bubur rumput laut.
Ekstraksi kedua dilakukan selama 2
sampai beberapa jam tergantung jenis
rumput Taut yang diekstraksi. Menurut
Marine Colloid Inc untuk rumput laut
jenis Eucheuma cottonii dilakukan
selama 18 jam, sedangkan untu jenis
Eucheuma spinosum dilakukan selama
3 jam.
Penyaringan :
Setelah proses ekstraksi selesai bubur
rumput laut ditambah dengan filter aid
(celite atau tanah diatomae) dengan
konsentrasi 3-4%. Penyaringan
dilakukan dengan filter press, dalam
keadaan panas sehingga memudahkan
penyaringan. Filtrat hasil penyaringan
kemudian ditambah dengan 0,05% NaC
untuk memudahkan proses
pengendapan.
Pengendapan :
Pengendapan karaginan dilakukan
dengan cara menuangkan filtrat ke
dalam isopropyl alkohol sambil diaduk-
aduk selama 15 menit, sehingga
terbentuk seratserat karaginan.
Perbandingan filtrat dan isopropyl
alkohol yang digunakan adalah 1 : 2.
Serat-serat karaginan yang diperoleh
kemudian direndam kembali dengan
isoprpyl alkohol selama 30 menit
sehingga diperoleh serat karaginan
yang lebih kaku.
Pengeringan dan Penepungan :
Serat-serat karaginan kemudian
dikeringkan di dalam oven dengan suhu
60C sampai kering, kemudian digiling
sehingga diperoleh tepung karaginan.
2.5 PENGOLAHAN ALGINAT
Alginat diekstrak dari rumput laut
coklat (Phaeophyceae), misalnya
Laminaria dan Sargassum. Asam
alginat adalah suatu polisacharida
yang terdiri dari D-mannuronic acid dan
L-guluronic acid yang merupakan
asam-asam karbosiklik (R-COOH)
dengan perbandingan mannuronic acid/
guluronic acid antara 0,32,35.
Alginat biasanya digunakan dalam
bentuk garam misalnya garam Sodium,
Calsium, Potasium dan Amonium dan
juga dalam bentuk ester seperti
Propylene glycol alginat. Sodium
alginat komersil mempunyai berat
molekul antara 32.000200.000 dengan
derajat polimer 180 930. Asam alginat
dan garam Calciumnya sangat sedikit
larut dalam air, sedangkan garam
Sodium, Potasium dan Amonium serta
Propylene esternya larut dalam air
panas dan air dingin.
Proses pengolahan :
Sebelum diolah rumput laut
dibersihkan dari kotoran-kotoran
seperti pasir dan pecahan-
pecahan batu karang. Pencucian
dilakukan dengan
menyemprotkan air. Supaya bisa
disimpan agak lama, rumput laut
perlu dikeringkan. Pengeringan
dapat menggunakan sinar
matahari atau alat-alat
pengering misalnya drum dryer,
kemudian disimpan dalam
gudang. Bila kontinuitasnya
terjamin, rumput laut dapat
langsung diolah tanpa
dikeringkan dahulu.
Rumput laut kering dari gudang
penyimpanan sebelum diolah
lebih lanjut dicuci kembali dangan
air untuk menghilangkan
kotoran-kotoran yang mungkin
terikut selama penyim-panan dan
transportasi.
Untuk menghilangkan kotoran-
kotoran yang larut dalam alkali,
rumput laut direndam dalam
larutan 0,5% NaOH pada 5060C
selama 30 menit.
Kemudian direndam dalam 0,5%
HCL pada temperatur ruang
selama 30 menit untuk
menghilangkan kotoran-kotoran
yang larut dalam asam dan juga
untuk merubah garam-garam
alginat dalam rumput laut
menjadi asam alginat.
Setelah dicuci dengan air panas
45C selama 3060 menit, rumput
laut dipotong-potong untuk
kemudian diekstraksi.
Ekstraksi dilakukan pada 6070C
selama 60 menit dengan larutan
Na 2CO3 1213%. Untuk
mempermudah pemisahan
larutan alginat dengan residu,
biasanya ditambahkan air
sebanyak empat kali volumenya.
Larutan alginat dipisahkan dari
residu dengan floating tank,
kemudian untuk memisahkan
kotoran-kotoran yang terikut
larutan dimasukkan kedalam
pemisah centrifugal.
Larutan dibersihkan dalam
Bleaching tank dengan
menambahkan larutan 12% NaOH
e sebanyak 1/10 volume larutan.
Pembentukan gel asam alginat
dilakukan dengan menambahkan
larutan 10% H 2SO4 sebanyak
1/10 volume larutan alginat dan
dimasukkan bersama-sama
kedalam tangki coagulasi.
Gel asam alginat dipisahkan dari
larutan dengan filtrasi atau
pemisah Centrifugal.
Asam alginat dirubah menjadi
sodium alginat dengan
menambahkan bubuk Na 2CO3 dan
metyl alkohol.
Sodium alginat kemudian
dipisahkan dari larutan dengan
filtrasi. Metyl alkohol dalam
filtrat dapat diambil kembali
dengan distilasi.Sodium alginat
dikeringkan dan dihaluskan
menjadi bubuk 80100 mesh
III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
- Rumput laut telah lama
digunakan sebagai makanan
maupun obat-obatan di
negeri Jepang, Cina, Eropa
maupun Amerika.
Diantaranya sebagai nori,
kombu, puding atau dalam
bentuk hidangan lainnya
seperti sop, saus dan dalam
bentuk mentah sebagai
sayuran
- Alginat, digunakan pada
industri :
1. farmasi sebagai emulsifier,
stabilizer, suspended agent
dalam pembuatan tablet,
kapsul;
kosmetik : sebagai pengemulsi
dalam pembuatan cream,
lotion dan saus.
makanan : sebagai stabilizer,
additive atau
bahan tambahan dalam
industri tekstil, kertas,
keramik, fotografi dan lain-
lain ;
- Agar-agar, banyak
digunakan pada industri/
bidang :
1. makanan : sebagai stabilizer,
emulsifier, thickener
mikrobiological : sebagai
cultur media
kosmetik : sebagai pengemulsi
dalam pembuatan lotion,
cream dan
salep.
- Karaginan, biasanya diproduksi dalam
bentuk garam Na, K, Ca yang dibedakan
dua macam yaitu Kappa karaginan dan
lota karaginan
3.2 SARAN
Sebaiknya dalam pengambilan data
primer dan sekundernya lebih
diperkuat dengan cara mendapat
langsung asli jurnal, literatur
pembanding diperbanyak lagi agar
mengetahui perbandingannya lebih
luas. Semoga makalah ini bermanfaat
untuk masa sekarang dan seterusnya

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The WordPress Classic Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: